Istilah Hijab mulai dikenal di Indonesia sejak 2007 lalu. Sebelumnya masyarakat Indonesia biasa menyebut Hijab dengan jilbab ataupun kerudung. Sebutan hijab merupakan akselerasi budaya dari Negara Timur Tengah. Hijab sendiri dalam bahasa Arab memiliki arti penghalang. Tapi bagi Negara lain di luar Arab, menyebut hijab sebagai penutup kepala (kerudung atau jilbab). Namun dalam ilmu Islam, hijab sendiri merujuk kepada tata cara berpakaian yang pantas sesuai syariat Islam.

Pemakaian Hijab diwajibkan bagi wanita muslim dan sudah diatur sejak jaman kenabian dalam Surat Al Ahzab dan An Nur.

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

 

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab:59)

 

يُبْدِينَ وَلَا فُرُوجَهُنَّ وَيَحْفَظْنَ أَبْصَارِهِنَّ مِنْ يَغْضُضْنَ لِّلْمُؤْمِنَاتِ وَقُل

جُيُوبِهِنَّ عَلَى هِنَّ بِخُمُرِ وَلْيَضْرِبْنَ  مِنْهَا ظَهَر مَا إِلَّا زِينَتَهُنَّ

 Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,,(QS An Nur 31)

 

Pejuang Muslimah Indonesia yang pertama kali berjilbab adalah Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Pejuang Muslimah asal Minang yang namanya diabadikan untuk jalan di Jakarta.

Jika mengkaji sejarah lebih dalam, kita akan menemukan nama pejuang muslimah berjilbab lainnya seperti Teungku Fakinah, Cut Nyak Dhien, Sri Sultanah Ratu Nihrasyiah Rawangsa Khadiyu, Ratu Zakiatuddin Inayat Syah dan Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Ta’jul Alam Shah Johan Berdaulat, dari Aceh, Nyai Achmad Dahlan pendiri Nasyiatul Aisyiah Muhammadiyah dan Rahmah El Yunusiyyah mujahidah asal Minang yang membidani lahirnya TNI. Beliau ini semua adalah muslimah yang berjuang dengan jilbabnya.

 

Selama ini seringkali kita dengar, jika hijab dan jilbab dianggap sebagai budaya Arab dan bukan identitas Muslimah Indonesia ataupun warisan leluhur Nusantara dari satu generasi  ke generasi selanjutnya.

Fakta sejarah menunjukkan, hijab merupakan identitas asli Muslimah Indonesia sejak berabad lalu, meski hanya berupa kerudung yang ditaruh di atas kepala.

Identitas Mujahidah

Sejarah mengenai siapa Muslimah pertama kali yang memakai jilbab di Indonesia belum diketahui secara pasti. Sejarah hijab ini tidak banyak menjadi perhatian sejarawan, peneliti sejarah hijab ini sendiri adalah mereka hijabers dan desainer hijab itu sendiri.

Diperkirakan sekitar tahun 1400 M, Sulthanah Sri Ratu Nihrasyiah Rawangsa Khadiyu yang memerintah kerajaan Samudra Pasai hingga tahun 1427 M, Sulthanah Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam Shah Johan Berdaulat yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1641-1675 M dan Sulthanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah (1678-1688 M) sudah berjilbab, meski jilbab beliau lebih mirip kain yang dijadikan sebagai kerudung.

Hal ini terlihat pada lukisan karya pemerhati Sejarah Aceh sekaligus pelukis kelahiran Aceh, Sayeed Dahlan Al Habsyi. Dalam lukisannya, ia menggambarkan kedua Ratu tersebut (Ratu Nihrasyiah dan Ratu Safiatuddin) memakai baju lengan panjang dengan kerudung.

Buku yang ditulis Sejarawan Muhammad Ali Hasjmi (A. Hasjmi) berjudul “59 Tahun Aceh Merdeka Dibawah Pemerintahan Ratu” halaman 206, memperkuat lukisan Sayeed Dahlan.

Hasjmi menerangkan, jika tahun 1681 M rombongan Syarif Mekkah mendapat kesempatan menghadap Sulthanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah. Rombongan ini keheranan dan terkagum melihat Banda Aceh yang cantik dan permai. Mereka mendapati tentara pengawal istana terdiri dari prajurit wanita yang mengendarai kuda. Pakaian dan hiasan kuda itu dari emas, suasa dan perak. Tingkah laku pengawal Istana  dan pakaian yang dikenakan cukup sopan, tidak ada yang menyalahi peraturan Agama Islam.

Sekitar tahun 1800-1900 an, pejuang  Muslimah Indonesia sudah banyak yang memakai jilbab secara tertutup, seperti Nyai Achmad Dahlan beserta pengurus Nasyiatul Aisiyah Muhammadiyah. Terbukti pada foto mereka dalam buku Api Sejarahnya Ahmad Mansur Suryanegara halaman 422 dan 424.

Cut Nyak Dhien sering digambarkan dalam lukisan dan fotonya, ia tidak berjilbab. Namun dalam foto ketika ia ditangkap oleh pihak Belanda memperlihatkan bila Cut Nyak Dhien mengalungkan kain panjang di leher yang diperkirakan Sejarawan sebagai kerudung.

Rahmah El Yunusiyyah,  dalam fotonya terlihat sangat menutup aurat dengan jilbab panjang dan baju yang tidak ketat.  Bukan hanya sekedar kerudung tetapi benar-benar hijab yang sesuai syariat Islam.

Begitu pula, Teungku Fakinah, mujahidah asal Aceh yang pada tahun 1873 turun dalam perang melawan agresi Belanda juga digambarkan sebagai sosok berjilbab.

Ada juga wanita Sunda biasa memakai kerudung putih yang dilipat di atas kepala. Mereka menyebutnya mihramah atau mihram yang berasal dari bahasa Arab mahramah.

(G.F Pijper,Fragmenta Islamica : Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal Abad XX, 1987, hlm. 18).

Revolusi Jilbab

Sejarah mengenai jilbab Indonesia tidak terlepas dari sejarah perjuangan untuk menerapkan dan memakainya. Rahmah El Yunusiyyah pada tahun 1935 mewakili kaum ibu Sumatera Tengah untuk mengikuti Kongres kaum Perempuan di Batavia dengan penampilan berjilbabnya. Dalam kongres tersebut, ia memperjuangkan ciri khas budaya Islam dalam kebudayaan Indonesia  dengan pemakaian kerudung.

Hak Asasi Muslimah untuk berhijab pernah dicabut oleh pemerintah pusat pada tahun 1979 . Peristiwa ini berawal dari para siswi berjilbab di SPG Negeri Bandung yang mendapat perlakukan diskriminatif terhadap jilbab mereka. Menyaksikan hal ini, ketua MUI Jawa Barat turun tangan hingga pemisahan itu berhasil digagalkan.

Tanggal 17 Maret 1982,, Prof. Darji Darmodiharjo, SH, selaku Dirjen Pendidikan dan Menengah, mengeluarkan SK 052/C/Kep/D.82 tentang melarang penggunaan jilbab di sekolah.

Saat itu memang tengah terjadi kerusuhan bagi pemakai jilbab. Para Muslimah banyak yang mundur dari sekolah demi konsistensi menjalankan syariat agama Islam.

Mereka yang diusir dari sekolah karena jilbab, membawa perkara ini ke pengadilan, untuk pertama kalinya. Keputusan palu hakim berujung pada revolusi jilbab dan mengundang protes dari ribuan mahasiswa dan pelajar berjilbab dari berbagai kota besar ikut turun ke jalan. (Sebuah Torehan Wajah Perempuan dan Peristiwa 2005).

Sejak revolusi jilbab besar – besaran,  keluarlah SK Dirjen Dikdarmen No. 100/C/Kep/D/1991 untuk mencabut larangan pemakaian jilbab yang sebelumnya disuarakan oleh pemerintah pusat.

Saat ini Hijab sangatlah populer sehingga mengenakan hijab tidak lagi dipandang kuno. Dulu citra hijab terkesan sangat kuno dan fanatik. Sehingga tidak banyak orang yang mengenakan jilbab.

Bagaimana revolusi hijab di Indonesia?  Berikut sekilas informasinya :

Hijab Di Tahun 80an

Di tahun 80an hijab lebih dikenal dengan nama kerudung atau pun jilbab. Dulu orang mengenakan jilbab dianggap fanatik dengan kesan negatif. Bahkan turun SK pelarangan mengenakan jilbab di sekolah umum. Dengan adanya larangan tersebut membuat citra jilbab tidak pernah masuk dalam hitungan dunia fashion dan menjadi pakaian yang terlihat kuno.

Hijab Di Tahun 90an

Seiring perkembangan zaman, jilbab yang tadinya berkesan negatif perlahan mulai diterima oleh masyarakat luas. Trend hijab mulai dikenal sehingga hijab mulai masuk hitungan fashion.

1. Model Nasida Ria

Model hijab ini menjadi populer karena kehadiran kelompok musik kasidah bernama Nasida Ria. Semua personel dalam grup memakai model yang sama, terkadang bagian leher tidak tertutup. Yang menjadi ciri khas style ini adalah tali yang mengikat di kepala mereka.

2. Gaya Neno 90-an

Yang memperkenalkan gaya ini, artis bernama Neno Warisman sekitar tahun 1990. Ciri khas model ini adalah dua lapisan kerudung yang dipakai. Lapisan pertama adalah jilbab instan sebagai lapisan dasar. Lapisan kedua jilbab segitiga dengan warna kontras dari lapisan pertama.

3. Gaya Inneke

Awal tahun 2000-an, artis Inneke Koesherawaty mengenalkan Hijab model sangat simpel dan tidak terlalu lebar. Jilbab yang dipakai segitiga dengan dalaman ciput. Bagian bawah kerudung dililitkan pada leher dan dimasukkan pada pada kerah baju. Model hijab seperti ini masih bertahan sampai sekarang, biasanya dipakai untuk lapisan jilbab pertama acara wisuda maupun pernikahan, lalu pada lapisan kedua biasanya dikreasikan jilbab segitiga dengan hiasan.

4. Kerudung Marshanda

Tahun 2003 Marshanda memperkenalkan tren hijab tersendiri. Model dari hijab ini menggunakan pashmina dengan gaya sederhana yang menutupi bagian leher.

5. Tahun 2010 hingga sekarang

Tren hijab semakin populer di awal tahun 2010. Unsur colorful sangat mendominasi. Bahkan model hijab semakin ekspresif dan unik. Dan mulai bermunculan desainer Hijab seperti Jenahara, Dian Pelangi, lalu disusul Ria Miranda, Zaskia Sungkar, Zaskia Mecca, dan banyak lagi desainer kreatif lainnya

Beraneka ragam pilihan hijab di masa sekarang tak lepas dari coretan tangan sang desainer yang menggambar baju muslim menjadi fashion yang menarik dan tidak membosankan. Juga masih dalam syariat agama Islam.

Siapa saja desainer muda yang namanya mulai dikenal Mancanegara tersebut ?

  1. Dian Pelangi

 

 

 Lahir di Palembang, 14 Januari 1991

Seorang founder Hijaber Community, juga pengusaha mode dengan label busana Dian Pelangi Fashion.

Lulus SMP, Dian Pelangi melanjutkan belajar di SMK 1 Pekalongan jurusan tata busana, kemudian melanjutkan sekolah di Ecole Superieur des Arts et Techniques de la Mode (ESMOD) dan lulus pada tahun 2008 dengan nilai yang cukup tinggi.

Perempuan yang pernah diwawancarai CNN karena rancangannya tersebut, tahun 2009 bergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dan menjadi anggota termuda kala itu. Tidak hanya itu, pertengahan tahun 2009 untuk pertama kalinya Dian mengikuti fashion show di Melbourne, Australia.

2. Zaskia Sungkar

Lahir di Jakarta, 22 Desember 1990

Adalah pemain Sinetron serta vokalis dari The Sisters, grup duo bersama adiknya, Shireen Sungkar. Selain itu ia bersama suami, Irwansyah, memiliki E- Commerce Wokuwoku.com dan Brand Fashion , Zaskia Sungkar.

Karyanya sebagai deesainer Hijab mulai banyak dilirik penikmat mode dunia tatkala ia mengikuti ajang bergengsi tahunan di New York, Amerika Serikat bersama kedua rekannya, Dian Pelangi dan Barli Asmara.

Zaskia Sungkar, Dian Pelangi dan Barli Asmara, mengangkat tema “ From Lombok To New York”. Fokus utamanya  yaitu Mandalika, putri cantik asal suku sasak, Lombok Tengah, pada ajang  New York Fashion Week Fall/Winter 2015 tanggal 12-19 Februari.

3. Zaskia Adya Mecca

  

Lahir Jakarta, 8 September 1987

Istri dari sutradara Hanung Bramantyo ini dulunya dikenal sebagai pemain film. Belakangan, sejak tahun 2012, karena paksaan sang kakak, Tasya Nur Medina, yang ingin mengajak Zaskia berbisnis, menawarkan untuk membuka butik

Zaskia yang lebih ingin menjalankan butiknya secara online saja, akhirnya mengalah dengan putusan sang kakak untuk memhuka butik di bilangan Kemang, Jakarta selatan. Butik baju muslim yang diberi label Meccanism ini sebetulnya adalah bisnis keluarga. Dimana Zaskia sebagai Direktur Utama yang mengurusi desain dan konsep. Tasya sang kakak sebagai Direktur Operasional mengurus keluar masuk barang. Serta Haikal, adik Tasya dan Zaskia, sebagai Direktur Keuangan.

Karena omset penjualan yang meningkat dengan jumlah produksi 1000 item dalam satu hari, kakak beradik, Tasya dan Zaskia Mecca ini memutuskan membuka cabang Meccanism di 4 tempat.

Seetelah sukses dengan label Meccanism, Zaskia Mecca kembali membuat brand busana muslim tahun 2015 lalu dengan nama BIA. Busana muslim kali ini yang diusungnya lebih ke busana muslim sehari – hari yang casual dan fashionable.

Masih sama seperti brand sebelumnya, kali ini, brand BIA juga menggandeng anggota keluarga Zaskia sebagai tim. Yang berbeda, proses pemasaran brand BIA lebih fokus dengan marketing online, karena melihat potensial pasar online yang semakin melejit tiap harinya.

4. Jenahara Nasution

Jika menyebut nama Jenahara Nasution tentu, orang awam tidak akan kenal siapakah perempuan ini meski karyanya dalam busana muslim sudah diacungi jempol desainer mancanegara.

Bila menyebut nama Ida Royani, pasti banyak yang mengenalnya. Iya, Jenahara Nasution adalah putrid artis Ida Royani yang sering menjadi lawan main film aktor Benyamin.

Tangan dingin Jenahara, tanpa bantuan orang tua, mampu melambungkan namanya sebagai desainer busana muslim. Terlepas dari bayang – bayang ketenaran nama sang Ibu, Jenahara tidak pernah menanggapinya. Publik pun dibuat heran belakangan, bila ternyata desainer yang hobi merancang desain edgy, berhiaskan stud dengan dominan warna hitam ini adalah putri artis  terkenal era 80an.

Melalui brand Jenahara yang diluncurkan tahun 2011, Jenahara melambungkan koleksi busananya yang eksentrik. Bila Dian Pelangi dikenal dengan nuansa colourful, Jenahara dikenal dengan nuansa berkabung oleh beberapa komunitas Hijabers. Sebab, beberapa desain Jenahara yang sudah tampil di butik, warna dominannya adalah hitam.

Wanita lulusan LPTB Susan Budiharjo ini, saat ini tengah memantapkan karir di ajang New York Fashion Week

5. Anniesa Hasibuan

Nama Anniesa Hasibuan melambung seketika sebagai desainer busana muslim sejak mengikuti peragaan busana bertajuk “Ziryab Fashion Show-Kaftan Festival 2015” di Westfield, London, Inggris, pada Maret 2015. Di acara itu Anniesa memamerkan busana muslim dengan kaftan bertema Timur Tengah.

Peragaan busana Anniesa Hasibuan, menjadi momen bersejarah dalam dunia hijab Indonesia tatkala ia muncul sebagai desainer hijab pertama yang mengikuti ajang prestisius tersebut. Karyanya pun mulai dilirik oleh Haute Hijab, perusahaan Amerika yang menjual busana muslim dan hijab, pasalnya Melanie Elturk sebagai Direkterur Eksekutif Haute Hijab, sangat tergoda dengan pola cutting dan aplikasi border yang sangat mendetail.

6. Ria Miranda

Lulusan dari Universitas Andalas, Padang dan Esmod Jakarta, wanita yang akrab dipanggil Uni Ria ini, mulai merintis bisnis fashion muslimnya sejak tahun 2009. Ia juga memiliki belasan outlet yang tersebar di kota besar Indonesia hingga Malaysia.

Ria Miranda terkenal akan rancangan pola cutting bajunya yang unik seperti draperi dengan modifikasi aplikasi rajut tangan dan warna yang ditonjolkan pun selalu warna kalem seperti warna pastel kebanyakan.

7. Ghaida Tsuraya

 

Wanita lulusan ITB jurusan fisika ini, mulai dikenal oleh dunia fashion muslim ketika ia akftif di Hijabbers Community. Namanya kian melambung setelah public mengetahui bila ia anak kyai kondang AA GYM.

Rancangan Ghaida menonjolkan cutting yang sederhana, tidak banyak teknik dan aplikasi yang ditambahkan. Tapi sangat terkenal dengan rancangan yang lembut dan santun. Cirri khas Ghaida yakni warna – warna yang feminine seperti permen.

Itulah tadi beberapa desainer busana muslim yang beberapa mengharumkan nama Indonesia dikancah internasional melalui karyanya. Kita sebagai wanita muslim patut berbangga hati mengenakan hijab sebagai identitas Indonesia yang harus kita tunjukkan dengan penuh percaya diri.